12 November 2008

CDMA Siap Bertarung di 3,5 G

Kebutuhan internet sepertinya sudah menjadi kebutuhan pokok orang-orang modern. Apalagi sekarang masyarakat kita sudah mengarah pada generasi kelima, yakni mobile devices. Generasi yang memadukan antara teknologi internet dan teknologi mobile.

Selama ini, layanan internet masih dominan di jaringan GSM dengan layanan 3,5 G. Persoalan yang sering dikeluhkan konsumen speed yang melambat alias ngedrop atau bahkan putus nyambung. Nah, teknologi CDMA (Code Division Multiple Acces) sekarang menawarkan solusi. CDMA akan hadir di Indonesia dengan daya akses kencang dan diperkirakan mampu menyaingi akses generasi ketiga (3G) yang diusung oleh GSM.

Teknologi mutakhir ini bernama CDMA EV-DO (Evolution Data Only/Evolution Data Optimized). Tipe teranyarnya disebut dengan CDMA EV-DO Rev A (baca Revision A). Produk ini keluaran Qualcomm, Amerika Serikat. Sebenarnya, teknologi serupa sudah masuk ke Indonesia sejak tahun 2004. Tapi, tipenya CDMA EV-DO Rev.0.

Dengan teknologi ini, pengguna bisa menikmati kecepatan akses hingga 2,4 megabit per second (Mbps) untuk mengunduh atau 153 kilobit per second (kbps) untuk mengirim atau meng-up load. Dengan kecepatan ini, teknologi ini bakal mengalahkan teknologi 3 G dari GSM.

Di negeri asalnya, Amerika, teknologi EV-DO Rev A sudah lama populer. Contohnya, e-book Amazon, Kindle, Sprint, dan sebagainya. Taiwan dan Korea Selatan sudah mulai intensif dengan teknologi ini.

Sigit Kurniawan | foto: philips.blog.com

Read more...

11 November 2008

Strategi Yahoo! Jaring Kemitraan

Yahoo! Mengumumkan beberapa peraihan strategis di Indonesia dan memperbarui kemitraan di negara dengan strategi patner of choice. “Strategi Yahoo! Versi 2.0 di Indonesia merupakan pengantaran hasil yang mampu memberikan peluang bagi pengguna internet di Indonesia,” kata Pontus Sonnerstedt, Senior Director Business Development Yahoo! Southeast Asia (Indonesia) di Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta (11/11).

Pontus mengatakan kemitraan sangat penting bagi Yahoo! Sebagai titik awal bagi konsumen Indonesia. Ia meyakini meskipun dunia sekarang sedang dilanda krisis finansial baru, tapi internet akan terus berkembang. “Yang tidak melakukan investasi di sana akan jatuh di belakang. Yahoo! Indonesia bisa menjadi alternatif solusi,” katanya.

Di Indonesia, produk online-nya meliputi The Yahoo! Indonesia Front Page, Yahoo! News, Yahoo! Mail, Yahoo Search, Yahoo! Messenger, dan Yahoo! Mobile yang bisa diakses dalam Bahasa Indonesia. Pada hari ini juga, Yahoo! Merilis program Yahoo! Advantage Warnet. Dalam program ini, Yahoo! Menggandeng para pengusaha internet cafe. Ini merupakan kerjasama dengan Eways Corp dan Natnit.net GloibalCom dan Asosiasi Pengusaha Warnet (APW). "Yahoo! Advantage merealisasikan visi yang sama dengan organisasi terlibat untuk mendukung kebutuhan pengalaman internet lokal untuk konsumen sekaligus menyediakan kesempatan pertumbuhan bisnis untuk pemilik warnet di Indonesia," katanya.

Yahoo! Advantage Warnet ini dirilis menyusul keberhasilannya di Filipina dan Vietnam pada tahun 2007. Program ini tersedia dengan gratis di www.yahoo.co.id/warnet. Sampai akhir tahun ini, Yahoo! Advantage menargetkan mampu menjaring 900 warnet.

Strategi jejaring Yahoo! Lainnya terwujud dalam kemitraan dengan beberapa portal berita, seperti Detik.Com, Kompas, Antara, SCTV, KapanLagi.Com. Dengan ini, dalam rubrik News on Yahoo! Indonesia, muncul beberapa berita yang ditulis oleh media-media tersebut. Beberapa bulan ke depan, konten dari media-media tadi akan dapat diakses pada situs Yahoo! News dan tersedia juga di Yahoo! Indonesia Front Page(www.id.yahoo.com). Sigit Kurniawan


Read more...

28 Oktober 2008

Big Think Ala Schmitt

Setelah sukses mempromosikan dunia marketing melalui experiential concept, Bernd H Schmitt meluncurkan buku inspiratif berjudul “Big Think Strategy, How to Leverage Bold Ideas and Leave Small Thinking Behind” (Harvard, 2007). Kira-kira pemikiran besar apa lagi yang keluar dari otak Schmitt yang akan datang kembali ke Jakarta November 2008 ini?

Mari kita telusuri pemikiran melalui buku teranyarnya itu. Baginya, sebuah cita-cita besar membutuhkan strategi yang besar pula untuk menggapainya. Terkait dengan itu, penggagas Experiential Marketing ini mencoba menggali inspirasi Big Think tidak hanya dari berbagai praktik bisnis yang sukses, tetapi juga epos Kuda Troya, simponi Mahler, dan film Fitzcarraldo.

Dalam epos Kuda Troya, ada seorang bernama Agamemnon yang bertahun-tahun mencoba membobol tembok pertahanan kota Troya dan selalu gagal. Tapi, lain dengan Odysseus yang membuat kuda-kudaan dari kayu berukuran raksasa. Dengan kuda ini, Odysseus berhasil membobol benteng pertahanan Troya dan menaklukkannya. “Bagi saya, pelajaran Kuda Troya untuk bisnis cukup simpel. Pemimpin bisnis harus membebaskan mereka dari konsep yang melulu menaikkan hasil. Tapi, mereka harus secara benar dan kreatif menggunakan strategi besar dan eksekusi atas strategi itu,” katanya.

Big Think dibedakan dengan Small Think. Big Think adalah berpikir keluar dari jalur standar (out of the box). Schmitt menggambarkan Big Think dengan unsur-unsur: kreativitas dan perubahan, kepemimpinan visioner, ide dan tindakan berani, integrasi yang melampaui ide-ide utama, bersifat jangka panjang dan berdampak lama. Sebaliknya, Small Think terdiri dari unsur seperti: berpikir biasa dan resisten, pemikiran dangkal, tidak menyukai risiko, mentalitas tertutup, dan fokus jangka pendek.

Schmitt menyebut beberapa perusahaan raksasa yang sukses dengan strategi Big Think, misalnya General Electric (GE) dengan ikon Jeffrey Immelt, Apple dengan Steve Jobs, dan sebagainya. Immelt sadar bahwa GE tidak akan bisa tumbuh pesat tanpa inovasi dan jalan Big Think. Ia memperkenalkan konsep “Three Imagination Breakthroughs” bagi setiap manajernya. Ide ini menantang GE untuk menggenjot diri untuk menghasilkan minimal $US 100 juta. Immelt senantiasa melihat kembali ide-ide ini dan mencoba menemukan ide baru untuk bisnisnya. Ia tidak mau terperangkap pada ide-ide kesuksesan lama. Ide-ide itu pulalah yang diterjemahkan tim GE dalam tindakan.

Selanjutnya, Schmitt memamparkan enam langkah terkait dengan Big Think. Tiga langkah pertama dikategorikan dalam strategi konsep (strategy formulation), yakni mencari ide-ide baru, mengevaluasi ide-ide tersebut, dan mengubah ide-ide tersebut dalam strategi Big Think. Tiga langkah berikutnya dikategorikan dalam tahap strategi pelaksanaan (strategy implementation), yakni eksekusi atas Big Think, memimpin dengan Big Think, mengimplementasikan dan menjaga kelangsungan Big Think dalam perusahaan. Buku ini secara garis besar mengupas langkah-langkah itu dalam setiap babnya.

Dalam langkah pertama, Schmitt menegaskan bahwa untuk menemukan ide-ide baru, orang harus keluar dari pakem. Tidak melulu menganalisis pasar dan faktor kompetitif dengan pisau analisis standar (analytical toolbox) saja. Tapi, harus bisa mencari koneksi-koneksi baru. “Kita harus menemukan ide-ide yang lebih radikal lagi. Yang jelas, kita tidak bisa menemukan sumber ide hanya di lingkup perusahaan saja. Kita harus melibatkan konsumen dalam proses itu,” tegasnya.

Usai menemukan ide-ide tersebut, perlu langkah jitu dalam mengevaluasi dan menentukan ide mana yang akan kita pilih untuk dieksekusi. Schmitt mengingatkan bahwa proses pemilihan ini jangan terjebak pada proses yang biasa dibuat atau ide-ide lama yang ada di perusahaan. Tapi, lebih pada apakah ide itu mempunyai dampak radikal pada bisnis perusahaan atau tidak. Sebaiknya, ada proses pengelompokan ide, penilaian ide terkait dengan dampak pada bisnis perusahaan dan dayanya mengubah pasar, ditempatkan dalam kerangka luas dan tidak melulu menurut pertimbangan para ahli saja.

Untuk mengubah ide-ide ke dalam strategi Big Think, Schmitt menawarkan empat kuadran strategi yang terdiri dari: kemampuan organisasi atau perusahaan, peluang dan tantangan dalam jejaring bisnis, nilai customer, dan peran ekosistem market pada hidup perusahaan. Dalam hal ini, ia mengusung keutamaan simponi Mahler. “Anda sedang melantunkan ide-ide berani Anda ke dalam sebuah dinamika yang membantu Anda mencapai cita-cita Anda,” katanya.

Sementara itu, dalam mengeksekusi Big Think, Schmitt mengajak kita membebaskan diri dari cara biasa. Langkah ini membutuhkan upaya besar seperti mau memindahkan sebuah kapal besar dari tepi pantai ke puncak gunung. Upaya ini menyasar dua pihak, internal dan eksternal. Internal lebih pada upaya mengomunikasikan ide itu pada seluruh karyawan. Eksternal lebih pada upaya mengomunikasikan ide itu pada customer. “Anda harus bisa menarik perhatian customer pada ide-de berani yang Anda komunikasikan,” tandasnya.

Langkah berikutnya, Big Think membutuhkan kepemimpinan. Pemimpin yang menganut Big Think harus mempunyai wawasan luas untuk menanamkan ide berani yang menyasar pada perubahan mendasar. Mereka tidak hanya mempunyai sebuah rencana, melainkan juga agenda. Semua rencana harus tersusun sedemikian rapi, objektif, dan jelas.

Langkah terakhir adalah bagaimana mengimplementasikan dan menjaga Big Think di perusahaan. Bagi Schmitt, tantangan terbesar Big Think tidak terletak pada bagaimana membuat proyek dengan sukses, tetapi bagaimana menanamkan Big Think pada jejaring perusahaan. Ia mengajak kita untuk memberdayakan karyawan. Karyawan sebaiknya mempunyai pandangan entrepreneur, senang dengan ide-ide baru dan berani.

Buku ini menarik karena disajikan dalam bahasa populer dan mengalir. Selain itu, Schmitt juga memberi banyak contoh dengan penyampaian dialogis seperti orang yang sedang melakukan percakapan. Sebenarnya, Big Think bukanlah ide baru yang jarang kita dengar. Tapi, Schmitt mampu memberi kebaruan melalui penyampaiannya. Oleh karena itu, buku ini tetap jadi “menu bergizi” bagi siapa saja yang ingin memulai bisnis, mengembangkan perusahaan, atau mengapai cita-cita besarnya. Menurut agenda, Bernd H. Schmitt akan memberikan seminar tentang buku ini di Jakarta pada bulan November 2008 nanti. [Sigit Kurniawan]

Read more...

Metrodata Siap Garap Konvergensi Digital

Jakarta- PT Metrodata Electronics Tbk mengelar METRODATA Solutions Day dengan tema “The Convergence of Telco, Internet, Media and Entertainment” di ballroom Shangri-La Hotel, Kamis (23/8).

Metrodata menilai bahwa konvergensi digital tidak bisa ditawar lagi. Konvergensi ini didorong oleh industri Telco, Internet, Media dan Entertainment dan akan menawarkan solusi-solusi baru yang inovatif baik bagi konsumen maupun pelanggan bisnis. Ramalan bahwa mobile device akan menjadi generasi ke-5 media sudah semakin nyata. Semakin membelakangi generasi sebelumnya, yakni media cetak (generasi pertama), radio (generasi kedua), televisi (generasi ketiga), dan internet (generasi kelima).

“Melihat banyak peluang itu, kami juga sudah siap bermitra dengan para
pemain di luar industri TI untuk merealisasikan konsep mobile devices sebagai media generasi kelima,” ungkap Kusnadi Sukarja, Presiden Direktur Pt Metrodata Electronics, Tbk.

Di acara itu, hadir pula pembicara lain, yakni Direktur New Business Development Team I Korean Telecom Freetel Wi Seong Ho, Presiden Direktur PT Excelcomindo Pratama Hasnul Suhaimi, Managing Director PT Oracle Indonesia Adi J Rusli, Managing Director SAP Indonesia Krish Datta, dan sebagainya.

“Ini era the rise of digital marketing. Kita tahu dunia IT sudah siap mendukung berbagai kompetisi bisnis, komunikasi lintas industri, market intelligence, dan supply chain evolution,” kata Adrian Anwar, Server Product Marketing Manager PT Microsoft Indonesia.

Hasnul Suhaimi menegaskan bahwa Indonesia dalam penggunakan m
obile internet ini masih ketinggalan jauh dengan Korea. Indonesia baru menempati angka 2%, sedangkan Korea 25%. Hal ini ia sampaikan dalam topik wacana seputar “convergence challenge in the Telco.” “Ke depan orang memakai handphone tanpa menggunakan telinga lagi. Cukup dengan ibu jari,” katanya.

Sementara itu, Hasnul melihat kompetisi industri seluler Indonesia berada tahap kedua. Tahap pertama, persaingan coverage. Tahap ketiga, persaingan price dan capacity driver. Tahap ketiga adalah kompetisi baik di price, capacity driver, maupun coverage.


Sementara itu, Director Korean Telecom Freetel, Wi Seong Ho mengun
gkapkan pihaknya telah menerapkan konvergensi data ke ponsel sejak beberapa tahun terakhir. Korean telecom yang merupakan operator CDMA terbesar di Korea Selatan telah menggandeng industri advertising untuk mengembangkan bisnis tersebut, tak hanya itu Korean telecom juga menggaet industri musik dalam perkembangannya. Sampai Agustus 2008, sudah ada sekitar 2,095 juta pengguna CDMA di Korea.

“Keuntungan CDMA selain mudah juga punya coverage luas, kompati
bel dengan video call, speed tinggi, dan mempunyai variasi handset dengan harga ekonomis,” papar Wi Seong Ho. [KM] Foto: Hendra O. Willyanto

Read more...

Blog, Marketer, and Democratic Marketing

In the process of developing a closer relationship with customers, some companies should provide some interactive channels. Could be imagined if a big company have no this media. There will be a gap between company and customers. Now, there are some interactive media such as public relation, call center, customer service and so forth.

But, one of contemporary media which is used rarely by some companies is blog. Blog which its emergence became a marker of the birth of citizen journalism has changed the pattern of people communication. With this medium every people can be a reporter. When the bomb exploded in London in 2005, some personal blogs reported the accident faster than conventional media like newspaper or television. This phenomenon has proved how powerful and revolutionary the blog’s effect.

Up to now blog has improved fast. Based on the report of blog searcher Technocrati, there are about 63,2 million blogs in the online world. Even there are 175 thousands new blog everyday with 1,6 million number of postings. It has proved that many people involved in this new media.

A Blog is different with a website. Blog is more interactive. In the certain case blogs have changed the mode of people relations. Include the way of doing business. We know internet has changed the word. Time and space has been compressed. There is no distance between time and space as in the previous period (Giddens, 2001). The revolution of communication carries the present. Blog also has the same character. In the business area blog has a role to keep relation between company and its customer continually. The advantage of blogs is that posts and comments are easy to reach and follow due to centralized hosting and generally structured conversation threads (see Wikipedia).

Some local companies have accessed blogs. It is called a corporate blog. For example Koran Tempo, a national newspaper in Indonesia. As a big company which runs business based on information industry Koran Tempo considers blog as a progressive and effective media of interaction and communication. Blog acts as a bridge for editorial staff and their readers. Meanwhile the traditional website is positioned as chamber of digital archives. Blog is positioned as a room of conversation. Website tends to be one way, top down, formal, rigid, and not communicative. In this blog, readers of Koran Tempo can contribute to give direct input, opinion, impression or even complain. The editorial staff can be immediately responsive. This condition is not found in the printed edition.

The corporate blog can be divided into two categories, internal blog and external blog. A internal blog generally accessed through the company’s intranet. Many blogs are also communal and allowing anyone to post to them. That blog may encourage employee participation, a sense of community, free discussion of issues, direct communication between various layers of an organization, and collective intellegence.
The external blog becomes media where company employees, teams, or spokespersons share their views. It is often used to announce new products and customer services. This blog has function to explain and clarify policies or to react on public criticism on certain issues. The marketing communication division can use it as media for press releases.

The other local companies which have blogs are Maverick, Virus Communication, and Virtual Consulting. This blog can be managed by team of marketing or public relation. Some company has found benefits of blogs. Even can jack up sales or production as which been experienced by Virtual Consulting (Koran Tempo 29/02/08).

Some international big companies also use this beneficial media. Such as Microsoft, Cisco, Kodak, Delta Airways, Google, Boeing, Ford, IBM, or Sun Microsystem.
There is one factor that influenced companies unwilling using blog. Because of the openness character of this blog, some companies are afraid of any public comments. They are worried the blog become a counterproductive media to their company. Even the complains posted on blog can be read every people all over the world.
Can not be denied that modernity offers the openness.

So, in my opinion companies be not afraid for using blogs. On the contrary the fear can be a marker of disorderliness in their products or services. Complains must be treated as special gift. And yet complains will be responded by other readers who have not same opinion. This condition can be a chance for marketers to prove their professionalism.

One more benefit of blog! Companies use it as a tool for making community of their product lovers. For example Kecap Bango, national soy bean produced by PT Unilever Indonesia. Through this blog, spokespersons of Kecap Bango can share some information to their customer. Even customers can communicate each other. Not rarely they can held a direct meeting. This moment must be used by marketer as a beneficial moment. Blogs also can be effective tools for doing word of mouth strategy.

Actually, blogs can be used as means to do democratic marketing. I use this term intentionally to illustrate how marketing can do democracy that every customers, consumers, or other stakeholders have vote to decide product’s existence. A company should concern on people as the main stakeholder. [Sigit Kurniawan]

Read more...

Quote of Philip Kotler

"Marketing is not the art of finding clever ways to dispose of what you make. It is the art of creating genuine customer value."

[Philip Kotler]

Bus Disulap Jadi Rumah Berjalan

Image Hosted by ImageShack.us
Seperti apakah bila bus, moda transportasi yang jamak digunakan orang, disulap menjadi 'rumah atau kantor' berjalan?read more

  © Blogger template The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP