05 Mei 2008

Dari Kami...

Hello Marketer,

Redaksi mengucapkan selamat mampir di saung putih ini. Anggap saja ini menjadi tempat hang out melepas segala lelah untuk sekadar mencicipi menu sederhana kami atau menyeruput segelas teh hangat atau kopi yang diharapkan bisa memantikkan sepercik api pencerahan di batok kepala.

Mengapa blog ini ada? Tentu ini menjadi pertanyaan dari sebagian pembaca. Blog ini hadir karena blog itu sendiri menjadi sebuah alternatif komunikasi yang tak terhindarkan. Blog menjadi sarana komunikasi dan interaksi yang sangat efektif. Kehadiran blog telah mengubah pola relasi dan komunikasi orang-orang modern. Termasuk juga pola relasi bisnis. Oleh karena itu, selain ada blog personal, ada juga blog korporat.

Lihat saja hasil dari proses pelacakan blog oleh mesin Technorati. Sampai hari ini ada sekitar 63,2 juta lebih blog di dunia. Ada lebih dari 175 ribu blog baru muncul setiap hari dengan 1,6 juta pasting setiap hari atau 18 posting terbaru setiap detiknya.

Hello Marketer dikhususkan untuk tulisan-tulisan seputar bisnis, khususnya dunia marketing. Blog dalam dunia marketing menjadi suatu media yang layak mendapat perhatian. Pasalnya, blog menjadi media interaktif antara perusahaan dengan konsumennya. Selama ini, perusahaan mempunyai website. Namun, sejauh pemantauan, masih terkesan tertutup dan satu arah (top down). Blog mencoba ‘membongkar’ kesan beku dari pola relasi itu. Dengan pola interaksi macam ini, blog mampu membangun kedekatan sekaligus kehangatan antara perusahaan dengan konsumennya.

Hello Marketer (selanjutnya disingkat HM) pernah menulis pada media ini bahwa blog mendukung apa yang namanya democratic marketing. Perusahaan pun harus menerapkan pola komunikasi demokratis dengan konsumennya. Dengan blog, posisi kedua belah pihak sama-sama mempunyai power dan diharapkan bisa menjalin relasi mutualisme. Termasuk juga dengan blog ini. Blog ini bebas menerima masukan, entah kritik atau tanggapan. Para pembaca juga bisa mengirimkan artikel, berita, atau tulisan apa saja yang inspiratif buat ditampilkan di lembar putih HM ini.

Itu saja perkenalan dari HM. Semoga kehadiran HM semakin menambah nilai bagi hidup para pembaca khususnya para pelaku marketing. Akhirnya, saya mengucapkan kegembiraan bahwa tidak ada waktu yang paling indah selain minum secangkir teh hangat dengan para sahabat! Semoga Hello Marketer menjadi sahabat menyenangkan bagi Anda semua. Selamat membaca!

Salam ceria,


Sigit Kurniawan
Editor in Chief

Read more...

Cara Orang Kampung “Menjajah” Kota

Cinta pada kampung halaman bisa diwujudkan lewat beragam cara. Entah dengan melestarikan seni budayanya, melakukan pembangunan, maupun dengan mempromosikan potensi-potensi daerah yang ada. Lain halnya dengan Arief Wirawangsadita. Putera Bandung yang akrab disapa dengan Arief ini ingin mengangkat kampung dengan “unjuk rasa” di berbagai kota lewat jalur kuliner.

Menjadi pengusaha makanan orang kampung sudah menjadi mimpinya sejak lama. Akhirnya, setelah sekian lama, pemilik resor Kampung Sampireun, Garut, Jawa Barat ini berhasil mendirikan gerai makanan khas orang kampung yang berkibar dengan nama Bumbu Desa pada tahun 2005.

“Konsep desa begitu memesona saya. Saya tergerak membuka usaha yang sekaligus memberdayakan potensi kampung ini. Jangan meremehkan orang kampung. Kami justru ingin mengepung kota-kota dengan value kampung,” kata Arief selaku pemilik sekaligus President Director PT Tirtagangga Gitamaya yang memegang merek Bumbu Desa.

Gerai pertama didirikan di Lawi, Bandung. Nama Bumbu Desa memang sengaja dipakai untuk menunjukkan kekhasan resto yang ia bangun. Sesuai namanya, resto ini menyajikan menu khas orang desa dan 95% bercitarasa Sunda. Akan tetapi, Arief mengaku tidak pernah mengklaim resto yang dibangunnya merupakan restoran Sunda. “Kami mempunyai misi berkontribusi pada tanah kelahiran kami. Kami sadar makanan-makanan ini sudah ada sejak leluhur kami dan sekarang sangat marketable,” kata Arief saat ditemui di kantor pusat Bumbu Desa, di daerah Dago, Bandung.

Menyajikan menu-menu khas desa di gerainya tidaklah mudah. Dengan tekad besar, Arief rajin berkelana ke pelosok-pelosok desa di Jawa Barat untuk menemukan racikan makanan desa—khususnya yang tidak populer di pasaran. Strateginya cukup unik. Ia mencoba mendekati para istri bupati yang biasanya menjadi ketua dharma wanita maupun PKK. “Melalui mereka, usaha kami akan lebih mudah. Mereka juga senang berbagi resep makanan untuk kami tampilkan di gerai kami,” kata pria yang gemar menjadi bagpacker ini.

Tidak sekadar itu. Arief pun mengumpulkan juru-juru masak dari kampung untuk berkontribusi di restorannya. Chef yang mereka punya bukanlah koki yang berasal dari hotel bintang lima. Tapi, ya dari ibu-ibu desa tadi. Memang, misi lain Arief tak lain adalah memberdayakan orang-orang kampung.

Atmosfir kampung juga ia terjemahkan dalam desain setiap gerainya. Kalau kebetulan menyambangi gerainya, Anda akan melihat nuansa pedesaan yang kental di gerai tersebut. Meski dibalut dengan gaya modern, interiornya didesain sedemikian rupa menyerupai kedai pedesaan. Di setiap dinding, dipajang foto-foto bernuansa klasik pedesaan. Misalnya foto para petani memanen padi, foto gerobak sapi, keceriaan anak-anak kampung, dan sebagainya.

Tata lampu pun dibuat sedikit redup dan menambah suasana klasik. Saat di pintu resto, kita akan disambut para waitress dengan seragam khas orang kampung yang akan menyapa kita dengan gaya Sunda-nya. Arief menamai mereka dengan “tim murah senyum”. Mereka selalu mengenakan pin Murah Senyum yang difungsikan sebagai pengingat agar selalu ramah pada setiap pelanggan. Ini sesuai dengan pepatah Sunda “someah hade ka semah” yang artinya selalu ramah pada tamu.

Di dalam gerai, pengunjung bisa memilih hidangan yang disajikan dengan kemasan desa seperti daun pisang, anyaman bambu, dan sebagainya. Sembari memanjakan lidah, pelanggan pun akan menikmati alunan musik khas Pasundan.

Menurut Arief, konsep servis makanan dan minuman di Bumbu Desa mirip dengan konsep servis warung Tegal (warteg) yang dikemas lebih modern disertai sentuhan marketing profesional. Di sana, ada beberapa menu andalan seperti udang garong, ikan pepes, ikan mas cobek, ikan paray goreng, tumis genjer bercampur oncom, ayam bumbu desa, sayur asem, dan sebagainya. Ditambah dengan sambel yang rasanya cukup kuat dan mengikat lidah. Untuk minuman, Bumbu Desa menyediakan menu cukup variatif. Kita bisa menjajal es kopyor jeruk, bajigur maupun bandrek spesial, di samping aneka jus dengan beragam varian rasa, soft drink, dan minuman lainnya.

Sejak didirikan, resto ini mendapat sambutan yang antusias. Usai sukses dengan gerai di Lawi, tiga bulan kemudian ia menambah gerai di Pasir Kaliki. Melihat animo pengunjung cukup tinggi, mulailah Arief melebarkan sayap bisnisnya ke kota-kota besar lain di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Makassar, Medan, Bali, Balikpapan, dan Batam.

Pada tahun 2008 ini, Arief menargetkan ada 24 gerai Bumbu Desa mulai bercokol di wilayah Nusantara. Setiap gerai dipegang oleh seorang manajer gerai dengan sekitar 70 karyawan untuk melayani 250 tempat duduk. Gerai paling ramai ada di Kelapa Gading. Volume pengunjung setiap weekdays bisa mencapai 600 orang di setiap gerai dan weekend mencapai 1.500 orang.

“Jujur saja, ada sedikit rasa was-was ketika masuk ke kota besar seperti Jakarta. Ada rasa tidak confident. Tapi, rasa ini bercampur dengan optimisme besar bahwa kami akan sukses,” kata bapak tiga anak ini.

Sejak awal, Bumbu Desa membidik segmen menengah-atas, termasuk para eksekutif perusahaan. Segmentasi ini pun memengaruhi strategi harga yang diterapkan. “Di sini, kami memasang harga antara Rp 35 ribu sampai Rp 45 ribu. Dengan uang segitu, orang bisa menikmati makanan yang enak sekaligus menyehatkan,” katanya.

Selain rasa, satu kekuatan lain Bumbu Desa, menurut Arief, terletak pada servis pada pelanggan. Arief menerapkan konsep human relations pada pelanggan. Karena itu, ia mempersiapkan tim dengan mendidik mereka dalam training center selama tiga bulan. Pusat pelatihan ini berada di Garut, Jakarta, dan Bandung. Arief menargetkan sampai akhir tahun ini mempunyai total karyawan sekitar 1.800-an.

Baginya, setiap karyawan dari satpam sampai manager gerai bertugas sebagai marketing perusahaan. Bila ada pelanggan komplain, mereka dididik untuk mendengarkan sampai pelanggan selesai menyampaikan komplain. Mereka tidak boleh membela diri dan harus minta maaf. Usai tamu meninggalkan gerai, dalam 10 menit mereka diharapkan mengirim SMS untuk minta maaf kesekian kali, mengutarakan janji tidak mengulangi kesalahan, dan menyampaikan harapan datang lagi ke gerai. “Cara ini cukup simpatik dan jitu. Ini membuat tamu merasa senang dan malah menjadi pelanggan loyal,” kata lulusan fakultas hukum dari Universitas Parahyangan ini.

Edukasi dan promosi pada pelanggan juga unik. Lantaran memiliki database pelanggan (baik perorangan maupun korporat), Bumbu Desa rajin memberi tahu setiap ada menu baru. Di beberapa gerai, diadakan program sarapan bareng gratis. Bahkan, Bumbu Desa tidak segan-segan mengirimkan menu baru itu kepada ke rumah pelanggan.

Selain itu, Bumbu Desa juga berpromosi melalui print ad, flyer, spanduk, dan word of mouth. Ada pula sistem membership untuk mendapatkan diskon dan prioritas reservasi. Jika akumulasi poin member mencapai angka tertentu, mereka akan mendapat tiket gratis menginap di resor Kampung Sampireun miliknya atau mendapat undian mobil Toyota Avanza seperti yang dilakukan pada tahun kemarin.

Arief melihat Bumbu Desa cukup berkembang pesat mengingat investasi yang tidak kecil untuk setiap cabangnya. Tahun ini, ia menargetkan untuk mengoptimalkan masing-masing cabang, membangun program loyalitas pelanggan, serta mendongkrak awareness konsumen di perkotaan pada Bumbu Desa. Ia pun tidak begitu takut dengan kompetisi.

Sementara itu, tahun 2009, Arief ingin melakukan ekpansi ke luar negeri. Sekarang, sudah ada pihak yang mengundangnya untuk membuka cabang di Singapura dan Shanghai. “Saya ingin menjadikan Bumbu Desa sebagai representasi kuliner Indonesia di mancanegara. Termasuk juga menjadi menu kenegaraan di negeri sendiri,” katanya optimistis.

Sigit Kurniawan | sumber: Majalah Marketing edisi Mei 2008

Read more...

Bus Disulap Jadi Rumah Berjalan

Sudah jadi rahasia umum bahwa moda transportasi kita amat memprihatinkan. Selain karena angka kecelakaan cukup tinggi, servis, keamanan maupun kenyamanannya pun masih rendah. Tapi, sekarang Anda tidak perlu khawatir. Sudah ada bus yang dibuat demi memenuhi kebutuhan akan kenyamanan, keamanan, sekaligus suasana eksklusif. Lupakan saja perjalanan darat yang membosankan. Inilah “cyber bus”, sebuah unit bus yang mengusung konsep entertainment rumah dan kantor.

Perusahaan Otobus (PO) Nusantara mem-branding-kan bus ini dengan sebutan Omah Mlaku. Kata ini dalam bahasa Jawa berarti “rumah berjalan”. Memang demikianlah adanya. Bus ini didesain seperti rumah berjalan. Di dalamnya ada sofa berlapis kulit, kursi pijat elektronik, kamar tidur dengan dua bed, kamar mandi, mini kitchen yang dilengkapi microwave, kulkas mini, lemari, dan meja.

Bukan cuma itu. Penumpang juga bisa menempuh perjalanan sambil berkaraoke-ria. Di dalam bus disediakan perangkat multimedia berupa LCD TV 32 inci plus satu set DVD karaoke dan 2 buah LCD TV 20 inch yang dipasang di kamar tidur dan di sisi belakang ruang utama. Bus ini mampu memuat 10 orang penumpang sesuai dengan batas kenyamanan.

Hebatnya lagi, bus ini dilengkapi dengan perangkat GPS Navigation dan CCTV yang dipasang di bagian depan. Dengan begitu, penumpang yang berada di ruang utama maupun ruang tidur tidak perlu susah payah bertanya pada supir tentang keberadaan bus atau sisa jarak tempuh dari tempat tujuan.

Di samping itu, penumpang dimanjakan pula dengan fasilitas internet. Bus ini difasilitasi dengan teknologi High Speed Downlink Packet Access (HSDPA) atau 3,5 G yang memberikan layanan internet dengan kecepatan sampai 3,6 Mps. Fasilitas ini merupakan hasil kemitraan PO Nusantara dengan PT Indosat Tbk. Oleh karenanya, bus ini akrab dikenal sebagai Cyber Bus. PO Nusantara juga bermitra dengan Baze untuk instalasi sound system.

“Fasilitas internet ini mendukung kinerja kantoran. Mereka bisa melakukan teleconference dengan webcam maupun Voice Over Internet Protocol. Meski sedang melakukan perjalanan jauh, mereka masih bisa melakukan kontak online dengan kantor,” ungkap Andy Darwaman A, IT Manager PO Nusantara.

Menurut Andy, bus tersebut merupakan konsep lama dari Handojo Budianto, Direktur Utama PO Nusantara, setelah terinspirasi dengan berbagai moda transportasi modern di negara-negara Eropa yang pernah ia kunjungi. Eksekusinya dilakukan bertahap. Pada tahun 2005, Handojo mendapat bus baru dengan chasis Volvo special engine dengan tipe B 12M dengan mesin tengah. Menurutnya, saat ini di Indonesia cuma ada satu tipe bus seperti itu. Mesin bus mempunyai volume 12.000 cc dan house power (HP) 420. Tidak lama kemudian, bus ini pun “disulap” oleh kreativitas desain interior PO Nusantara menjadi Omah Mlaku dan di-launching pada Januari 2008.

Diakui Andi, proses eksekusi Cyber Bus ini tidaklah gampang. Beberapa kali konsep ini ditolak oleh sejumlah operator. “Malahan, kami dibilang gila atau aneh-aneh saja membuat bus macam itu di Indonesia. Akhirnya, kami berhasil merangkul Indosat,” katanya.

Untuk sementara ini, status bus ini adalah sewa. Sementara, segmen yang dijadikan target pasar adalah family, korporat maupun instansi pemerintah. Menurut Andy, keluarga bisa mengakses bus ini demi kenyamanan sekaligus keintiman selama perjalanan. Sedang untuk korporat, bisa digunakan oleh menjamu tamu penting perusahaan maupun para eksekutif. “Target dari bus ini tak lain adalah mewujudkan kehendak kami untuk memberi kenyamanan lebih pada penumpang. Ini yang pertama kali ada di Indonesia,” katanya.

Untuk beberapa orang, brand Omah Mlaku terkesan medok (kental) Bahasa Jawanya. Tapi, hal itu memang disengaja. “Kalau kami pakai nama seperti bus lain pada umumnya, itu kurang greget. Kami mau mengusung nuansa klasik,” kata Andi.

Sementara itu, promosi tentang layanan bus dilakukan dengan bekerja sama melalui berbagai media, baik cetak maupun online. Untuk segmen korporat, bus ini dipromosikan kepada seluruh klien PO Nusantara. “Memang, promosi kami tidak terlalu open. Tapi, ada sebuah bank yang mau menyewa bus ini hanya untuk rapat di jalan. Sambutannya cukup antusias. Bahkan, beberapa bulan ini, bus kami sudah full booking,” tegasnya.

Soal harga, Omah Mlaku yang menelan investasi sekitar Rp 2 miliar ini mematok harga rasional sebesar Rp 5 juta per hari (selama 18 jam). Harga ini sudah termasuk supir dan akses fasilitas-fasilitas yang disebut di atas. Namun, harga tersebut tidak termasuk biaya parkir, pajak masuk tempat wisata, dan sebagainya. Untuk sementara, bus ini hanya dioperasikan di wilayah Jawa. “Kalau ditimbang dengan kenyamanan dan fasilitasnya, harga ini lumayan murah. Bahkan, sebelumnya kami pasang harga Rp 7 juta per hari. Kami menargetkan bus ini bisa beroperasi 10-15 kali sebulan,” katanya.

Tanggapan positif terhadap bus ini pun bermunculan. Salah satunya datang dari pengamat transportasi Dharmaningtyas. Menurutnya, keunggulan bus ini adalah kemampuannya menjadi alternatif moda transportasi baru yang menyasar orang yang benar-benar ingin menikmati kenyamanan dalam perjalanan. Meski, untuk kalangan umum, ia melihat animo masyarakat belum tinggi dengan inovasi semacam ini. Sebab, mereka masih mengharapkan moda transportasi murah.

“Tapi, untuk masa-masa tertentu seperti liburan, keluarga bisa menggunakan bus ini untuk mendukung suasana santai dan segar. Saya melihat masyarakat kelas menengah-atas dan eksekutif perusahaan akan tertarik mencoba bus model ini,” katanya.

Tahun ini, PO Nusantara berencana akan merilis satu unit bus lagi yang diformat bagi pasangan yang sedang honeymoon, dengan desain interior dibuat sedemikian rupa agar mendukung suasana romantis. Oleh karena itu, bagi yang ingin berbulan madu dengan cara lain daripada yang lain, boleh juga menjajalnya.

Sigit Kurniawan| Majalah Marketing Mei 2008| Foto: Sigit Kurniawan

Read more...

Quote of Philip Kotler

"Marketing is not the art of finding clever ways to dispose of what you make. It is the art of creating genuine customer value."

[Philip Kotler]

Bus Disulap Jadi Rumah Berjalan

Image Hosted by ImageShack.us
Seperti apakah bila bus, moda transportasi yang jamak digunakan orang, disulap menjadi 'rumah atau kantor' berjalan?read more

  © Blogger template The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP